Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

Friday, 7 October 2011

The Stranger's Poetry . Ambon Part. 2

“Memorabilia”
by : Hindun Nurzahara

Kuamati papan catur
Hitam putih, laksana sejarahku.


Memorabilia
Sesuatu yang patut dikenang
Memorabilia
Hal hitam yang patut aku ingat, tentang sejarah masa lalu hitam diingatan
Memorabilia kudakwahkan

Bertahta bak raja
Emas permata tiada hingga
Yang kumau jadi nyata
Tiada sedih menderap hamba
Angkuh bak pemilik
Sombong laksana dewa
Tinggi hati seperti iblis
Gelap mata karena harta
Benda-benda rawatan pusaka
Nilai rendah makhluk sesama
Laknat hidup rakyat jelata

Jago merah memorabilia
Jago merah kau lahap yang dipunya
Sengat setinggi-tingginya listrik kecil
Meranggas api memakan benda pusaka
Kududuk bak raja


Kumainkan papan putih
Dibagian itu kini ku berada
Harta melimpah
Kesombongan
Malapetaka
Sang raja asli singkirkan semua

Sadar lemah
Sadar tak pantas

Kini ku berada digaris benar
Memorabilia hitam jadi memorabilia putih
Rendah hati
Sadar indah untuk berbagi..


“Perpisahan dan pertemuan”
by : Hindun Nurzahara

Air laut,
Menjadi uap dan naik
Menjelma menjadi segumpal mega
Awan,
Terapung diatas pegunungan dan lembah
Jatuh ! bercucuran kepadang-padang, lalu bergabung bersma aliran sungai dan kembali kelaut –kerumahnya-
Kehidupan awan-gemawan itu adalah sesuatu perpisahan dan pertemuan..

The Stranger's Poetry Part. I





"Senja Menggema"
by : Hindun Nurzahara

Sejenak ku termenung
Kuingin rasakan tamparan alam dibatas dunia
Senyum simpulku menahan gundah kelana
Memecah kebisuan yang lama tercenung
Ku dengungkan bait yang tak kunjung merenung
Melanglang meratap tak bergerak

Oh kaum setan !
Kau ajak diriku kembali menari diatas permukaan air
Percuma !
Aku tak mau terjebak diantara dua dunia
Ruang dimensi bangsamu bukanlah bagian diriku
Sudah waktunya kita berpisah
Biarlah kita berdiri didunia kita masing-masing
Biarkan ku nikmati keindahan ini tanpa kau ganggu
Sekali ini saja, ku ingin duduk lama diberanda..


“Rumah kaca”
by : Hindun Nurzahara

 Melihat titik-titik hujan menusuk-nusuk kaca jendela
Bagai mendengar orkestrasi nyanyian bunga, burung, dan bulan
Ada kecemasan ditengah kegaduhan
Banyak orang saling diam
Menghayati makna cinta

Duka yang tenggelam diantara kata-kata palsu,
adalah tikaman yang mencabik kesetiaan
Mulut kelu menghamburkan caci maki yang disampaikan dalam orasi memabukkan
Keliaran hati mencoba menerobos dinding itu
Pikiran jelajahi segala kemustahilan

Warna-warni pelangi semakin kabur oleh kabut
Seperti perjalanan panjang dalam hitungan waktu
Ketidak berdayaan menghadirkan bau kematian dan proses pemumian
Ketakuatan menekan kebeasan dan gairah
Jadilah penonton segala cerita 

Ya, hanya penonton !
Diam atau dipaksa bisu
Duduk dipojok-pojok kehidupan
Aku bergerak-terpatah-patah
Berjalan dengan kaca mata kuda tanpa jiwa
Kini lengkaplah episode kematian itu
Hujan membuat kabut pada kaca jendela mengiringin prosesinya

Tinggalah kini tangan-tangan yang mengepal lunglai.

What are you looking for..?

Keep Moving Forward with much idea and creation on your Blog...

Popular Posts

Author

Do you have an advice for this blog, call me.

Followers

Search Engine MarketingSubmit Express
WELCOME TO MY LITTLE WORLD, GUYS !!