Showing posts with label GALAUOoo. Show all posts
Showing posts with label GALAUOoo. Show all posts

Wednesday, 5 February 2014

THE IMPORTANT TIME

Perlahan tapi pasti, waktu keberadaan saya disini semakin terkikis, hanya tinggal menghitung hari. Lebih tepatnya, 2 hari lagi. Sekitar satu bulan yang lalu, pada saat saya menginjakan kaki kembali disini, mengawali masa libur semester gasal, rasanya.. wow! This gonna be a long holiday! That was I thought. But, so different with the reality. Waktu dengan amat sangat cepat bergulir, like I don't feel anything. Tapi ini sudah di ujung masa liburan, it's almost time to say goodbye, how sad.

Mungkin sudah menjadi suatu hal yang lumrah, jika seseorang apabila sudah ada di ujung suatu moment, akan sangat merasakan aura yang berbeda dari biasanya. Lebih tepatnya, suasana yang berbeda dari hari-hari dimana masa liburan masih di awal-awal atau pertengahan. It's really complicated for me. Baru terasa, sungguh sangat berat meninggalkan sesuatu hal yang dapat membuat kita nyaman, hal-hal yang sangat enjoylable dan sangat kita sukai. I was having fun back then. I did so many things, but now, rasanya kosong kembali. Sekarang si ruang kosong mulai diisi dengan kekhawatiran, takut, cemas, rasa tidak ikhlas mungkin, ya, dan perasaan berat meninggalkan tempat ini. This is my home, ironisnya saya baru merasakan that FEEL, pada saat saya mulai kuliah dan merantau jauh dari rumah. And that's it ! I feel that, I feel lost, empty.

I said that I did so many things, right ? Yes, indeed. Cukup banyak hal yang saya lakukan. Baik itu pribadi, bersama teman, keluarga atau bersama pacar. At last, everything was awesome! Cured me, from the loneless, saat saya sedang jauh dari rumah. Really worthed. Pada saat masa libur, tentu banyak ulah, banyak kritik, maksudnya banyak hal yang saya kritik, sering mengoceh dan banyak hal lainnya. Sekarang sudah menunjukan pukul 23.08 WIB, dan sejak saya berada di rumah, setiap hari saya bisa benar-benar tidur diatas jam tersebut. Ngantuk ? Tentu. Tapi saya punya alasan yang mungkin cukup konyol agar waktu untuk saya memejamkan mata bisa seminimal mungkin. Kenapa? Well, I thought that quite simple matter. Pikiran gila saya menguaptarakan bahwa, saya tidak ingin membuang waktu saya terlalu lama untuk tidur, karena di setiap detik, menit atau jam, saya bisa melakukan sesuatu, sesuatu yang worthed, apa saja. Harap pemikiran tersebut jangan ditiru, karena sejujurnya saya mengakui itu sangat tidak baik. Ya, ketakutan saya hanyalah saya takut, apabila saya tidur lebih cepat, maka mungkin saja saya bisa kehilangan sebuah moment bagi saya. Moment yang bisa membantu mendongkrak semangat saya agar bisa bertahan hidup di area baru. Area yang saya cukup tidak suka, uncomfortable. Saya hanya tidak mau kehilangan waktu, itu saja. Tapi memang, tubuh seharusnya diberi waktu istirahat, karena itu memang sudah menjadi hak. Karena itulah, pikiran saya yang tadi tidak recomended. Tapi bagi saya pribadi agak berat. Hmm.. well, jika anda adalah seorang yang sedang atau akan jauh dari tempat tinggal dan keluarga, mungkin anda juga merasakannya.

Sunday, 20 October 2013

SCAR

Kemarin, Sabtu 19 Oktober 2013 saya hadir di suatu event sosial bertemakan "Sehari Bersama Anak Difabel/Autis". Tidak ada yang salah dengan event ini, malah sebaliknya, ini event yang baik untuk dilaksanakan. Yang jadi masalah adalah pada diri saya. Beberapa anak autis usia dibawah 10 tahun hadir dalam acara tersebut. Sampai disini belum apa belum tertebak dimana letak permasalahannya ?
Well saya beritahu, saya bukan tipikal orang yang bisa luwes menghadapi anak-anak. Saya kaku, tidak terlalu menyukai anak-anak dan parahnya saya adalah bagian dari panitia yang menyelenggarakan acara tersebut. Perfect sudah, saya bingung apa yang harus saya perbuat.

Saya menyadari kalau saya bukanlah sosok protagonis, mungkin, kecuali orang beranggapan lain. Lebih tepatnya mungkin condong kearah sosok yang antagonis, tapi bukan dalam artian yang negatif. Kemarin dengan amat sangat jujur, 10.000% saya telah berusaha semaksimal mungkin mengeluarkan 'sementara' rasa tidak suka saya terhadap anak-anak dan mencoba tersenyum lebarrrr menyambut mereka. Saya cukup berhasil, setidaknya saya bisa bermain dengan mereka dan tidak menyebabkan seorang anakpun cidera (gara-gara saya). 

Sebelumnya saya juga sudah pernah membahas mengenai hal ini. Rasa tidak suka saya terhadap sosok anak kecil. Rasa tidak suka yang cenderung mengarah kepada rasa takut. Hal ini terjadi mungkin lebih banyak karena didalam memory yang terekam oleh otak saya, bahwa menjadi anak-anak itu menyebalkan dan menyeramkan. Intinya hampir sebagian besar ingatan yang saya rekam saat masih kanak-kanak adalah ingatan yang katakanlah "sangat tidak layak untuk diingat" dan berbekas sampai sekarang. Ketika saya dihadapkan dengan sosok anak kecil, seakan memory-memory itu muncul kembali. Menyedihkan bukan ? Seakarang, terserah anda mau tertawa, menggangap saya lebay mungkin, atau menganggap saya terlalu melow drama. That's up to you, tapi itu yang menjadikan 'anak kecil' adalah sumber permasalahan bagi saya pribadi.

Monday, 7 October 2013

MENUNGGU DAN DITUNGGU

Kedua hal yang pengen gue ganyang sekarang ini lebih ke yang namanya solidaritas. Solidaritas itu merupakan kata yang udah sangat umum banget dikoarkan dimana-mana. Solidaritas yang katanya penumbuh integritas. Solidaritas yang katanya peduli, saling ditunggu dan rela menunggu. Nah yang gue maksud menunggu dan ditunggu disini bukan ngebahas soal cinta yang kebanyakan di dalemnya pasti ada kejadian menunggu atau ditunggu, tergantung nasib.

Solidaritas, menunggu dan ditunggu.  Ada satu kejadian dimana seseorang meminta untuk gak usah ditunggu, otomatis dia pun ditinggalkan. Kemudian di hari lain seseorang itu diminta untuk menunggu, dia pun menunggu. Meskipun menunggu tapi pada akhirnya dia kembali ditinggalkan. Nah sekarang apa hubungannya dengan solidaritas dan rasa ‘pertemanan’? Tentu banyak. Jika dikaitkan dengan hal-hal tersebut tentu contoh kejadian diatas sama sekali bertolak belakang dengan pengertian ‘solidaritas’ itu sendiri. Lantas siapa yang harus disalahkan ? Apakah yang dikatakan ‘seseorang’ itu terlalu baik, karena dia rela saja diminta menunggu meskipun dia tahu pada akhirnya akan ditinggalkan juga ? Atau dia terlalu bodoh dan tidak punya keberanian untuk  ‘berjalan sendiri’ ?

Gue kira gak begitu. Intinya orang yang diminta ‘seseorang’ itu untuk ‘tidak perlu’ menunggu, tetap santai dan pergi dengan langkahnya sendiri. Dan saat orang tersebut meminta ‘seseorang’ itu menunggu bukannya dia ‘seharusnya sadar’ akan posisi dan lantas ‘menemani’ bukan meninggalkan ? Nah disini mulai jelas siapa yang secara kasat terkesan tidak punya etika. Contoh kecil dari suatu gejala social yang lumrah ada di kalangan kelompok individualis. Malah terlalu lumrah sampai yang katanya ‘solidaritas’ terkesan tak punya harga dan makna.

Tuesday, 1 October 2013

KEBODOHAN HIDUP



Balik ke rutinitas semula, dimana segala kejenuhan, boring, happy dan masalah-masalah lainnya bertemu di satu titik, kuliah. Balik ke rutinitas semua, ya, karena sebelum ini gue ngelakuin hal yang bisa dibilang cukup ekstream itupun kalau masuk ke kategori hal-hal gila yang dilakukan mahasiswa baru. Hal itu gue ceritain nanti deh. 01 Oktober 2013, tanggal yang sama dengan kejadian GSTOK meski beda jaman. Hari ini gue fix telah melakukan hal bodoh nan ceroboh lainnya. Masih terkait serangkaian acara ospek jurusan. Jadwal hari ini adalah debating. Sama halnya dengan acara debat lainnya. Meski acara kali ini gak formal-foral banget tapi aturan mainnya kurang lebih sama. Ada pihak pro dan kontra, ada mosi debat, juri, emosi, sanggahan dll. Hal bodoh yang gue maksud adalah lidah gue yang kepleset bawa-bawa agama. Entah ini udah masuk ke SARA atau bukan, saat gue nanya ke pihak lawan "Anda muslim apa bukan ?". Hari ini hari emosi, fokus gue pecah berkeping-keping, meski kepingannya gak kecil-kecil banget. Kalimat tanya itu sebenernya gak banget gue utarain, dan entah kenapa keluar gitu aja, meski maksud gue gak kesana. Akhirnya beralibilah gue, masukin hal yang sebenrnya gak patut diomongin. Ya alhasil di akhir kena tegur juri. Hal beginian sebenernya sepele, sepele banget kalau misalnya lo lagi bisa fokus. Dan justru karena hal ini hal sepele, yang menjadikan tamparan buat gue. Hal beginian aja gue gak bisa fokus, apalagi yang lainnya. Debat kali ini amuradul, omongan gue gak pake kerangkeng, ini salah, banyak yang salah. Entah gue terlalu menganggap sepele atau pure karena faktor deg degan. Emosi kayanya buat hari ini lagi mendominasi, banget. Dari emosi yang gak ngehasilin manfaat, malah kebingungan. Bingung tadi gue ngomong apa, mikir apa dan ngapain.

Saturday, 14 September 2013

Seperti apa Jakarta

Gue gak bermaksud mau nyinggung masalah perihal kota Jakarta. Cuma pengen sharing atau entah disini mungkin lebih cocok gue nyebutnya pertanyaan absurd. Tadi gue ada event di Kota Tua Jakarta. Gue naek kereta turun di stasiun Jakarta Kota, dan itu hal yang lumrah. Yang jadi permasalahan adalah kejadian sesudahnya. Gue dan rombongan jalan menuju ke Museum BI dengan rute jalan kaki menyisir trotoar, karena jaraknya lumayan deket. Di tengah jalan gue udah mulai gak konsen, sendal gue selip dan alhasil gue jalan sempoyongan dan hampir jatoh. Tapi untungnya gue keburu megangan ke pager. Disitu ada anak SD yang ngetawain gue, bodo amatlah. Gue langsung reflex nyamber temen gue. Temen gue tanggap, trus negur tuh bocah. Beberapa detik kemudian itu bocah SD nanya ke temen gue, "Mba, itu (gue) dari kampung ya?". Temen gue ngreplay, "Iya, kampung sunda, dari Bandung". Udahlah tuh bocah pada pergi. Next temen gue bilang kaya gini, "lo kenapa ?". Gue jawab, "lagi gak konsen, sendal gue nyelip, makanya hampir jatoh, untung kaga jadi". Temen gue ketawa dan nyeritain lagi ke gue apa yang anak SD tadi bilang dan dengan penambahan, "Ya gue iyain aja pas mereka nanya, dari kampung ya? Soalnya kalo orang Jakarta gak mungkin kaya gitu". 
 
Nah sekarang udah mulai ngerti kan apa yang jadi pertanyaan dan hal yang bikin gue gak ngerti ? Gue list deh :
1. Temen gue bilang ke gue kalo "orang Jakarta gak mungkin kaya gitu". Emang orang Jakarta gak pernah 'gak konsen' waktu lagi jalan ?
2. Emang orang Jakarta gak pernah selip waktu jalan kaki ?
3. Emang orang Jakarta gak pernah jalan sempoyongan ?
4. Emang orang Jakarta gak pernah dapet accident yang 'hampir' bisa bikin hal yang memalukan
5. Sebegitu superkah sendal orang Jakarta sampe bisa bikin 'gak akan' pernah ada yang 'selip' dalam perjalannya meskipun yang pake atau saat mereka jalan dalam keadaan yang lagi nggak banget.
6. Emang gak ada ya satu pun orang Jakarta yang 'gak pernah' selip, kesandung atau jatoh pas lagi jalan.
7. Kalo misalnya ada orang yang situasinya kaya gue dan status dia di KTP adalah domisili Jakarta. Berarti secara harafiah dia sebenernya bukan orang Jakarta dong ?
8. Emang orang yang disebut orang Jakarta itu kaya apa dan kaya gimana ?

Sorry gue gak bermaksud rasis disini. Ini cuma segelintir hal sepele yang cuma jadi 'rasa penasaran' buat gue. Ya tapi emang sih rasa penasaran yang juga butuh pencerahan atau secercah jawaban. Soalnya untuk beberapa tahun ke depan gue berdomisili di daerah deket Jakarta broh. Jadi otomatis bakal sering banget tuh ada hal yang pastinya mengharuskan gue buat berinteraksi dengan daerah-daerah seputaran sini, termasuk Jakarta. Tentu gue pengen dong termasuk warga yang beradab dan 'normal', akur dengan budaya daerah sekitar. Masa cuma gara-gara jalan kaki trus selip ntar gue malah di daulat 'bukan bagian dari Jakarta'? Lah, gue kan sekarang deket-deket situ, masa iya wkwkwk..

What are you looking for..?

Keep Moving Forward with much idea and creation on your Blog...

Popular Posts

Author

Do you have an advice for this blog, call me.

Followers

Search Engine MarketingSubmit Express
WELCOME TO MY LITTLE WORLD, GUYS !!